Postingan

Dan Akhirnya

Dan akhirnya aku tak lagi mengharapkan mu Sebab harapan sudah begitu kejam Dan akhirnya aku tak lagi mengharapkan mu Karena harapan sudah menjadi angan. Biarkan aku Cukup memandang mu dari kejauhan Bagai pungguk merindukan rembulan. Tak apa, Aku tidak sebesar itu Aku tak spantas itu Aku pun tak sepeduli itu. Dan akhirnya, biarlah..

Kembara Sunyi

Di hutan yang teduh Harimau memangsa rusa Dan di semilir angin Rusa mencabik-cabik rerumputan. Dan di gelapnya malam Diam-diam rumput menyesap-nyesap Saripati bangkai harimau. Sang pengembara hadir untuk mencari makna Bagaimana rusa yang begitu anggun  Harus mati tanpa ia tahu apa salahnya. Bagiamana rerumputan harus tumbang Tanpa sadar apa yang telah diperbuatnya Bagaimana harimau yang telah menjadi bangkai Tak bisa beristirahat dalam kuburan yang tenang. Sang pengembara manapaki sepi  Ia mencari keheningan abadi. Bagaimana sebab tak pernah menjadi sebab sesungguhnya. Bagaimana akibat hanyalah kumpulan fakta yang beriringan. Ia menapaki angin  Menelaah hujan Mengakrabi badai. Bahwa sebening itulah kebenaran. Sehangat itulah kesejatian.

MENULIS UNTUK DIRI SENDIRI

 ðŸ‘€ðŸ‘€ Entah mengapa agaknya akhir-akhir ini saya lebih ajeg dalam menulis. Serasa gatal tangan saya jika tak menghasilkan tulisan barang sehari saja. Seingat saya terakhir kali ajeg menulis pada saat SMA dulu. Menulis surat untuk pacar, menulis puisi untuknya, bahkan sampai materi keilmuan. Gila betul saya dulu dengan buku dan pena. Saya pernah merangkum buku, menterjemah, membuat peta konsep, mind maping, dan masih banyak lagi.  ðŸ‘€ðŸ‘€ Sayangnya itu hanya berlanjut sampai pertengahan kuliah. Dari pertengahan kuliah samapai beberapa bulan lalu Saya nganggur. Tangan saya kaku. Ibarat kata tiada guna asap yang mengepul dari mulut perokok bila tak melahirkan perenungan.   Akhirnya mulai beberapa bulan lalu saya seperti mendapatkan wangsit untuk menulis. Bukan karena apa-apa, tapi lebih pada upaya untuk mengenal lebih dekat dengan diri sendiri. Jadi saya enjoy, hasilnya bagus ya syukur, jelek ya wes.    ðŸ‘€ðŸ‘€ Akhirnya saya kepikiran, mungkin yang membuat saya m...

Cara Agar Bisa Gayeng dalam Membaca

 Membaca merupakan hal yang berat bagi kebanyakan dari kita. Buktinya kita lebih suka mendengarkan cerita daripada mencari langsung sumber informasinya. Agaknya inilah yang membuat kita tidak sabaran dalam mengolah pengetahuan. Sehingga kita suka plang-pleng, tidak pikir panjang, dan malas menerka berbagai macam kemungkinan. Ini entah berbahaya atau tidak, bukanlah urusan saya. Saya hanya ingin bercerita bahwa ada trik untuk menjadi pembaca yang Gayeng. Anda bisa menjadi seorang pertapa di tengah keramaian dunia dengan buku sebagai mediumnya. Kalau kata Najwa Shihab hanya butuh satu buku untuk bisa mencintai buku lain. Saya setuju, tapi kita butuh trik khusus untuk Gayeng membaca, tidak hanya berbekal cinta. Sebab kita tahu, cinta bisa memuai. Tak lagi padat, dan kadang tak sampai klimaks. Ejakulasi dini, sedini raut wajah malam hari. Untuk bisa menjadi pembaca yang Gayeng hilangkan ambisi untuk memahami isi buku.  Itu hanya akan membebani pikiran anda. Ketika Anda sudah ber...

Gak Kabeh Masalah Kudu Kon Urus Cuk!

 Masalah sering muncul karena tafsir akan peristiwa yang berbeda dengan keinginan, idealisme, dan pola pikir manusia. Belum lagi tafsir itu terbentuk dari banyak pengaruh perasaan yang kadang suka memanipulasi cara pandang. Disinilah manusia menjadi begitu rumit. Menjadi begitu congkak penuh gengsi. Padahal ia tidak ada setitik debu dibandingkan luas alam raya. Setiap manusia memiliki potensi dan kemampuan yang berbeda-beda. Tapi dengan cara pandang yang salah ia merasa dapat mengatur segalanya.  Memang bahasa memberi manusia imajinasi atas akusisi pengetahuan. Dengan nya ia merasa tahu akan segala hal hanya dengan membaca atau mendengar cerita-cerita yang beredar. Karena merasa tahu ia merasa tertuntut untuk bersikap aplikatif. Ia tak terima kalau segalanya berjalan secara alami dan natural. Orang seperti ini hidupnya sempit. Sesempit batok kepala nya. Ia tak bisa menerima hal-hal baru dan realitas baru.  Sehingga ia berlaku semena-mena. Sok ngatur-ngatur. Sok menghukumi...

Merefleksikan Kesedihan

 Hati adalah tanah lapang yang entah sampai dimana ujungnya. Konon katanya dunia tak dapat memuat Tuhan, tapi dapat dimuat oleh hati orang beriman. di dalamnya segala ramai dunia bergejolak. ada kelembutan, ada kebengisan, ada kesengsaraan, ada kebahagiaan, ada keresahan, ada ketentraman, ada diri! . dan tentunya masih banyak lagi hal yang sama sekali belum terbahasakan oleh ucapan manusia. Ada yang bilang bahwa ruang dalam hati itu berlapis-lapis. ya, agaknya saya setuju. meskipun tak tahu pasti bentuk masing-masing ruang agaknya tirai-tirai yang menyelimuti itu saya rasa memang ada. Awalnya saya merasa curiga. mengapa rasa bahagia menjadi larut, berganti dengan kesedihan, kesedihan larut, berganti dengan keresahan, keresahan larut, berganti dengan hampa, hampa berganti takjub. siapa yang mengatur ini semua?. saya tidak hendak merumuskan perihal hati, apalagi membuat teori tentangnya. terlalu dangkal pengetahuan saya mengenai misteri setiap anak manusia ini. saya hanya ingin berba...

Kebingungan Konsep dan Jerat Ilusi Lembaga Pendidikan

Kebingungan Konsep dan Jerat Ilusi Lembaga Pendidikan saya adalah sarjana S1 sejak empat sampai lima Tahun yang lalu. Ada banyak yang saya rasakan dan saya serap dari dunia terang ini sejak dari buaian ibu. Dalam kurun waktu yang relatif lama, bisa dikatakan sepertiga umur, baru sekarang saya tidak nyaman dengan hidup dan isi kepala saya. saya merasa ada yang salah.  sebentar saya berefleksi, tak ketemu. lama saya merenung, malah semakin bingung.  akhirnya saya diam. saya punguti satu-satu apa yang sedang meruncing di pikiran saya. saya temui ada beberapa hal: 1. saya harus Pintar. Ilmu saya Harus Banyak. maka harus sekolah setinggi-tingginya. 2. saya harus menularkan pengetahuan pada banyak orang. semakin banyak semakin baik 3. saya harus punya titel, siapa tahu nanti ada perlunya. saya renungkan poin pertama. apa yang salah? tidak ada yang salah, mungkin. tapi kenapa semakin banyak yang saya baca malah menjadikan segalanya ambigu? benarkah semboyan "Sains For Sains" yang se...