Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2021

Paradoks Hidup Manusia

 "Hidup adalah Keberanian Menghadapi Tanda Tanya", begitulah kata Soe Hoek Gie dalam salah satu tulisannya ketika ia berada di saat phoetic momen dalam sebuah pendakian gunung. Entah apa yang dimaksud dengan ungkapannya ini. Tapi cukup mewakili kegelisahan saya saat ini. Meskipun Saya tidak tahu ungkapan ini ia tujukan untuk masalah apa, saya tak peduli. Memang begitulah begitulah kebiasaan seorang pemikir, suka melontarkan kata-kata yang bersifat deduktif universal.  Ungkapannya ini akan saya arahkan ke salah satu bentuk paradoks Hidup Manusia.   Kita tahu bahwa manusia memiliki sisi sosial dan individual. Bagaimana cara ia membawa diri dan bersikap dalam lingkup sosial tergantung pada pandangan yang ia ambil mengenai manusia. Mana yang sejati? Apakah manusia itu personal individual? Ataukah plural ? Jika manusia sejatinya adalah sendiri, bagaimana ia bisa bersosialisasi dalam masyarakat? Sedangkan makna hidup ada dalam tanggung jawab sosial yang kita ambil. Jika ma...

'Usri-Yusro, Penting dan Rumitnya Mempelajari Bahasa Arab

 فإنّ مع العسر يسرا ، إنّ مع العسر يسرا "Sesungguhnya bersamaan dengan kesulitan ada kemudahan, sungguh bersama kesulitan ada kemudahan" Sebenarnya sejak dari tulisan saya yang kemarin sudah tergambar di benak saya untuk memuat ayat ini sebagai contoh fokus penting dan rumitnya mempelajari bahasa Arab. Tapi entah mengapa tak kunjung jadi Bagan narasi yang akan saya buat. Baru setelah saya mengalami sendiri sebuah kesulitan di hari-hari kemarin saya menemukan Bagan narasi yang pas. Masalah apa? itu rahasia 😄. Seolah Tuhan tak memperbolehkan saya untuk sekedar omong kosong dan membual dengan ayat-ayat Nya. Tuhan maha Asyik, kata Mbah Tedjo. Kita orang awam yang sekilas melihat terjemah ayat ini pastinya menyangka bahwa pengulangan dalam ayat tersebut hanyalah penegasan dari kalimat sebelumnya. Ya, tidak salah. Tapi jika kita menelaah dengan kaidah bahasa Arab yang tepat kita akan menemukan hal baru selain penegasan.  Kata العسر  pada kalimat kedua terdapat ال ta'rif yang b...

Kita sendirilah Benalunya

 Ada yang menarik saat iseng-iseng saya buka maktabah syamilah versi android. Serasa nemu durian runtuh saya sangat bahagia mendapat hadiah hanya dengan iseng membuka beberapa kitab karya para ulama' terdahulu. Jangan berfikir kalau hadiahnya berupa dorprize sepedah motor. Trlalu mustahil .. heheh. Tapi meski demikian hadiah ini tak kalah dengan sepedah motor. Kalau motor dapat membawa tubuh kita dari suatu tempat ke tempat lain, ini bahkan dapat membawa jiwa kita dari kegelapan menuju cahaya. Hahha. Anda yang pernah mengalami masa menjadi mahasiswa mungkin pernah mengalami saat-saat terpukau, terpesona, dan takjub dengan bangunan pengetahuan Barat. Entah dengan filsafatnya, ideologi dan pemikirannya di segala aspek kehidupan. Sosial, politik, ekonomi, Pendidikan, maupun sains dan teknologi.  Tak masalah, saya juga pernah. Sebab apa? Sebab saya pikir dunia keilmuan Islam sudah kekeringan sumber. Tak relevan sebab terlalu didominasi oleh fiqih dan tasawuf.  Apakah memang ...

Tuhan Maha "Undat-undat"

 Pernahkah anda merasa kesal? setelah memberi uang atau barang pada seseorang entah teman atau keluarga, pada awalnya kita ikhlas. Tak mengharap imbalan apa-apa bahkan sekedar mengingat-ingat pun tak pernah. Tapi entah apa yang terjadi, ada sikap tertentu yang dilakukan oleh orang yang kita beri yang membuat kita ingin bahkan tak tahan untuk mengungkit-ungkit jasa pemberian kita. Sikap-sikap apa sajakah itu? Anda yang pernah merasakan hal tersebut tentunya tahu. Apalagi sampai terucap kata “kok gak ileng rino wengi tak belani, kurang opo tak tambeli, butuh opo tak cukupi, jebul saiki....” . begitulah kiranya umpatan jawa yang pas untuk orang yang sedang kesal. Hal ini cukup wajar jika memang situasinya sangat mendesak dan tak tertahankan. Bahkan Tuhan sendiri pun demikian. Entah apa yang kita lakukan sebagai manusia sehingga Tuhan sangat kesal dan mengungkit-ungkit nikmat-Nya. Saya akan fokuskan pada ayat yang sering kita dengar.  ألَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدرك Tidakkah telah kami...

Manusia Mencari Makna

Ya, manusia memang hidup untuk menjawab pertanyaan tentang kehidupannya. Segala hal yang dikerjakan akan menuntut untuk sebuah jawaban dari mengapa ini saya kerjakan.  Munculnya pertanyaan akan makna tidak serta Merta hadir begitu saja. Butuh banyak hal yang harus dialami oleh anak manusia untuk menuju pada titik "theory of everything"nya masing-masing. Titik suka, duka, hampa, bahagia, resah, dan segala hal yang pernah dicerap oleh jiwa manusia akan menuntun pada simpul pertanyaan ini.  Apakah mungkin manusia mengetahui makna dirinya sendiri ? Entahlah, sepertinya saya meragukan itu. Sebab kursi sebagaimana kursi tak mungkin tahu kenapa ia menjadi kursi , domba tak tahu kenapa ia jadi domba, pohon pun saya rasa tak tahu kenapa ia jadi pohon. Jadi mereka hanya mengikuti naluri bawaan alamiah nya dalam hidup.  Jadi saya beranggapan bahwa manusia tidak mungkin dapat mengetahui makna lewat dirinya sendiri Kecuali diberi tahu oleh sang Penciptanya. Selama manusia menganggap s...