Gak Kabeh Masalah Kudu Kon Urus Cuk!
Masalah sering muncul karena tafsir akan peristiwa yang berbeda dengan keinginan, idealisme, dan pola pikir manusia. Belum lagi tafsir itu terbentuk dari banyak pengaruh perasaan yang kadang suka memanipulasi cara pandang.
Disinilah manusia menjadi begitu rumit. Menjadi begitu congkak penuh gengsi. Padahal ia tidak ada setitik debu dibandingkan luas alam raya.
Setiap manusia memiliki potensi dan kemampuan yang berbeda-beda. Tapi dengan cara pandang yang salah ia merasa dapat mengatur segalanya.
Memang bahasa memberi manusia imajinasi atas akusisi pengetahuan. Dengan nya ia merasa tahu akan segala hal hanya dengan membaca atau mendengar cerita-cerita yang beredar. Karena merasa tahu ia merasa tertuntut untuk bersikap aplikatif. Ia tak terima kalau segalanya berjalan secara alami dan natural.
Orang seperti ini hidupnya sempit. Sesempit batok kepala nya. Ia tak bisa menerima hal-hal baru dan realitas baru.
Sehingga ia berlaku semena-mena. Sok ngatur-ngatur. Sok menghukumi. Seolah-olah dunia berjalan sesuai hukum yang ada di kepalanya.
Ada tetangganya begini ia segera menyikapi, ada temannya seperti itu ia segera ijtihad.
Ia suka sedih atas derita orang yang tidak seberuntung dirinya, tapi diam-diam suka sedih pula atas keberhasilan orang yang melebihi keberhasilannya. Suka senang atas kebaikan orang tapi diam-diam suka juga atas keburukan orang.
Hei!
Gak kabeh2 masalah kudu mok urus cuk!
Gak Kabeh fenomena kudu mok sikapi!
Tenang wae!
Awakmu tetep awakmu. Gak usah kuwatir dianggep ora mampu Yen nyatane pancen Ra mampu !
Seperti itulah kira-kira umpatan Jawa yang cocok.
Hidup lebih terasa bermakna jika manusia fokus tajam ke dalam dirinya. Sebab Dari kedalaman makna keharuman pribadi akan tercium oleh nurani para perindu.
Ingatlah bahwa semua prilaku bisa di konsep, setiap perkataan bisa diframing. Dan anda masih sibuk menyikapi dan merespon sebuah konsep dan framing?. Maha tertipulah anda dengan segala fatamorgana!.
Sudah selayaknya manusia undur diri dari segala sikap sok tahu dan menghakimi.
Jangkaulah apa yang dapat anda jangkau, aturlah apa yang dapat anda atur. Karena itu adalah amanah dan titipan dari Tuhan.
Mungkin pengetahuan anda berlebih tapi tangan anda tak sampai. Jadi diamlah dan perhatikan bagaimana cara Tuhan berlaku dalam mengalami Diri-Nya sendiri.
Komentar
Posting Komentar