Kebingungan Konsep dan Jerat Ilusi Lembaga Pendidikan

Kebingungan Konsep dan Jerat Ilusi Lembaga Pendidikan

saya adalah sarjana S1 sejak empat sampai lima Tahun yang lalu. Ada banyak yang saya rasakan dan saya serap dari dunia terang ini sejak dari buaian ibu. Dalam kurun waktu yang relatif lama, bisa dikatakan sepertiga umur, baru sekarang saya tidak nyaman dengan hidup dan isi kepala saya. saya merasa ada yang salah.  sebentar saya berefleksi, tak ketemu. lama saya merenung, malah semakin bingung. 
akhirnya saya diam.
saya punguti satu-satu apa yang sedang meruncing di pikiran saya.
saya temui ada beberapa hal:

1. saya harus Pintar. Ilmu saya Harus Banyak. maka harus sekolah setinggi-tingginya.
2. saya harus menularkan pengetahuan pada banyak orang. semakin banyak semakin baik
3. saya harus punya titel, siapa tahu nanti ada perlunya.

saya renungkan poin pertama. apa yang salah? tidak ada yang salah, mungkin. tapi kenapa semakin banyak yang saya baca malah menjadikan segalanya ambigu? benarkah semboyan "Sains For Sains" yang selama ini erat saya pegang itu?. dulu jaman masih sekolah terasa tentram betul. tapi sekarang entah kenapa pengetahuan serasa kehilangan keseksiannya. hasratku telah redup. impotensi dimakan usia. katanya ilmu itu cahaya, kenapa saya merasa gelap gulita?. merasa buntu saya berpindah ke poin kedua.

sejak kelas 2 SMA saya sudah bikin kelompok diskusi bahkan lembaga kursus ilegal non profit. senang betul punya banyak pengikut. seolah saya adalah penyelamat generasi muda tanpa tanda jasa. hanya berbekal rasa terimakasih mereka dapat menerima pengetahuan yang berlimpah ruah. bukankah ini mulia? tapi setelah sekian lama kenapa rasa tentram itu hilang? jiwa patriotis saya tumbang, lunglai tak berdaya.
buntu lagi. saya pindah ke poin ketiga.

ah, siapa sih yang menancapkan pikiran seperti ini?. sok ngatur-ngatur hidup orang, shit!๐Ÿ˜”

saya putuskan buka-buka buku lagi. ada yang menarik di Ihya' karya Al Ghazali. disitu ada kutipan hadits Nabi yang kira-kira terjemah bebasnya adalah seperti ini, kata Nabi:
"jika datang padaku hari dimana tidak bertambah bagiku ilmu yang dapat mendekatkanku pada Allah maka tidaklah terberkahi (atau bisa diartikan guna manfaat) munculnya matahari di hari itu".

ah, merinding saya dibuatnya. malu. nelangsa. campur aduk tak karuan. maka ilmu tidak bebas nilai. ilmu mempunyai tujuan, sebab perangkatnya pun diberi oleh Tuhan. duh!

tak lama selang beberapa hari saya dibikin geleng-geleng lagi. kali ini dari semboyan orang jawa kuno, "ilmu kelakone kanti laku", ilmu itu berjalan dengan diterapkan. "yen ora podo ati, Lathi, dan pakerti mongko bakal dadi walat marang awake dewe" bila tidak sama antara hati, ucapan, dan prilaku maka akan menjadi bomerang bagi diri sendiri. damn't! ๐Ÿ˜

maka ilmu yang dipelajari harus dapat membentuk karakter dan wujud pribadi yang tergambar dari prilaku sehari-hari. tidak menjadi orang yang naif, munafik. maka harus seimbang antara pengetahuan dengan apa yang diucapkan dan juga dengan prilaku yang ditampilkan.  ya, saya gelisah karena tidak imbang!. 

lantas saya berpikir, masihkah ada guna pendidikan yang dilembagakan? toh nyatanya masing-masing orang punya laku tersendiri, kebutuhan ilmu tersendiri, dan juga proses tersendiri. lama hal itu berkecamuk,  setelah itu saya singkirkan. saya tepis dengan satire "ya jelas ada gunanya, tidak ada yang tak berguna di dunia ini. untuk menjadi bahan perenungan, misalnya๐Ÿ˜†."

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengetahuan-pengetahuan yang mungkin menyelamatkanmu ketika membaca kitab kuning

Urban Sufisme, Butuhkah?

Menyiasati Banking Education