MENULIS UNTUK DIRI SENDIRI

 👀👀

Entah mengapa agaknya akhir-akhir ini saya lebih ajeg dalam menulis. Serasa gatal tangan saya jika tak menghasilkan tulisan barang sehari saja. Seingat saya terakhir kali ajeg menulis pada saat SMA dulu. Menulis surat untuk pacar, menulis puisi untuknya, bahkan sampai materi keilmuan. Gila betul saya dulu dengan buku dan pena. Saya pernah merangkum buku, menterjemah, membuat peta konsep, mind maping, dan masih banyak lagi.

 👀👀

Sayangnya itu hanya berlanjut sampai pertengahan kuliah. Dari pertengahan kuliah samapai beberapa bulan lalu Saya nganggur. Tangan saya kaku. Ibarat kata tiada guna asap yang mengepul dari mulut perokok bila tak melahirkan perenungan.  Akhirnya mulai beberapa bulan lalu saya seperti mendapatkan wangsit untuk menulis. Bukan karena apa-apa, tapi lebih pada upaya untuk mengenal lebih dekat dengan diri sendiri. Jadi saya enjoy, hasilnya bagus ya syukur, jelek ya wes.

  👀👀

Akhirnya saya kepikiran, mungkin yang membuat saya mandek dulu adalah karena dorongannya murni dari luar. Agar keren, untuk membantu teman, atau mungkin supaya dapat pengakuan. Dan ketika semua alasan itu hilang ketika pertengahan kuliah apalagi setelah kuliah, maka turut hilang juga keinginan untuk tetap menulis.

  👀👀

Apakah saya rugi? Jelas!

Semenjak saat itu saya serasa jauh dan tidak begitu mengenal diri saya sendiri. Beda dengan sebelumnya ketika saya masih aktif menulis. Saya tahu alur logika berpikir saya seperti apa, pengetahuan saya seberapa, apa yang masih kurang, apa yang sudah cukup. Semuanya saya tahu dan faham betul. Sehingga saya dulu tidak sulit untuk mengembangkan diri. Mulai dari mana, lewat mana, dengan apa, golnya apa, dengan tanpa saya sadari.

  👀👀

Pada saat itu pula semuanya menjadi rancu di kepala saya. Silang sengkarut seperti benang kusut. Beragam informasi dan pengetahuan yang saya baca dari berbagai buku saling bercampur-baur tak karuan. sebab saya tidak menyiapkan almarinya, yaitu dengan menulis. Saya rasa dengan menulis sama saja kita membereskan isi kepala kita yang masih berserakan. Meskipun malah seringkali juga membuat kita sadar ada beberapa potong pengetahuan yang hilang atau belum ditemukan. Dan itu baik karena menuntut untuk kita belajar lagi.

Maka bagi saya menulis adalah terapi dan obat penyembuh dari sakit yang diderita oleh logika maupun mental saya.

  👀👀

Kenapa banyak orang merasa sulit untuk menulis?

Mungkin karena harapannya tinggi, tuntutannya tinggi, atau malas mengorek-orek diri sendiri. Semisal ingin memiliki karya yang bagus dan fenomenal, ingin terkenal, atau merasa tidak ada yang dapat digali dari dirinya, atau apapun itu.

Saya sarankan bagi sesama kawan pemula, menulis ya menulis saja! Jangan terbebani dengan sesuatu yang di luar diri anda. Jalani dengan enjoy. Tulislah apa yang memang ingin anda tulis. Entah itu benda, sifat, peristiwa, atau apapun. Urusan hasilnya bagus atau tidak, menjadi orang terkenal atau tidak , itu bukan sesuatu yang primer. Biarkan itu hanya menjadi akibat dari potensi anda yang semakin berkembang.

Dan yang lebih penting lagi, Cintai diri anda sendiri. Jangan biarkan ia kesepian hanya karena anda lebih mementingkan orang lain yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan diri anda. Ajaklah ia agar mau mendengarkan cerita anda atau menuturkan cerita pada anda. Tinggal nanti anda tentukan diksi, dan tuangkan pada tulisan.

 Saya mengajak agar kita menemukan kabahagiaan dari dalam, karena itulah yang sejati. Adapun Kebahagiaan yang dari luar hanya akan pergi menjauh bersama roda waktu. Tak ada guna mengejar waktu, karena ia nisbi dan tidaklah abadi.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengetahuan-pengetahuan yang mungkin menyelamatkanmu ketika membaca kitab kuning

Urban Sufisme, Butuhkah?

Menyiasati Banking Education