Tuhan Maha "Undat-undat"

 Pernahkah anda merasa kesal? setelah memberi uang atau barang pada seseorang entah teman atau keluarga, pada awalnya kita ikhlas. Tak mengharap imbalan apa-apa bahkan sekedar mengingat-ingat pun tak pernah. Tapi entah apa yang terjadi, ada sikap tertentu yang dilakukan oleh orang yang kita beri yang membuat kita ingin bahkan tak tahan untuk mengungkit-ungkit jasa pemberian kita. Sikap-sikap apa sajakah itu? Anda yang pernah merasakan hal tersebut tentunya tahu. Apalagi sampai terucap kata “kok gak ileng rino wengi tak belani, kurang opo tak tambeli, butuh opo tak cukupi, jebul saiki....” . begitulah kiranya umpatan jawa yang pas untuk orang yang sedang kesal.

Hal ini cukup wajar jika memang situasinya sangat mendesak dan tak tertahankan. Bahkan Tuhan sendiri pun demikian. Entah apa yang kita lakukan sebagai manusia sehingga Tuhan sangat kesal dan mengungkit-ungkit nikmat-Nya. Saya akan fokuskan pada ayat yang sering kita dengar. 

ألَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدرك

Tidakkah telah kami Lapangkan hatimu?

Apa maksud dari ayat ini? apa maksud melapangkan hati?. Sebentar. Agaknya ayat ini ada hubungannya dengan ayat berikut :

فَمَنْ يُرِدِ اللهُ أنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإسْلَامِ

Barangsiapa dikehendaki Allah untuk mendapat petunjuk maka Allah akan lapangkan hatinya untuk menerima Islam.

Jadi jelaslah nikmat yang diungkit-ungkit oleh Tuhan adalah nikmat Islam. 

Islam dapat diterima dengan kelapangan hati, dan sebaliknya dengan islam hati menjadi lapang. Keduanya adalah dua hal yang identik. Keduanya diberikan oleh Tuhan secara bersamaan. Sebab islam memberi kita rumusan dan cara pandang kita terhadap manusia, Tuhan, dan alam semesta dari level filosofis hingga praktis. Jawaban esensial dari seluruh pertanyaan mendasar dari masa ke masa sepanjang sejarah umat manusia.

Lantas mengapa Tuhan begitu kesal hingga sampai ungkit-ungkit nikmat tersebut?

Entahlah, masing-masing individu muslim pasti tahu dirinya masing-masing. Oleh karenanya mari bermuhasabah!.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengetahuan-pengetahuan yang mungkin menyelamatkanmu ketika membaca kitab kuning

Urban Sufisme, Butuhkah?

Menyiasati Banking Education