Manusia Mencari Makna

Ya, manusia memang hidup untuk menjawab pertanyaan tentang kehidupannya. Segala hal yang dikerjakan akan menuntut untuk sebuah jawaban dari mengapa ini saya kerjakan. 
Munculnya pertanyaan akan makna tidak serta Merta hadir begitu saja. Butuh banyak hal yang harus dialami oleh anak manusia untuk menuju pada titik "theory of everything"nya masing-masing. Titik suka, duka, hampa, bahagia, resah, dan segala hal yang pernah dicerap oleh jiwa manusia akan menuntun pada simpul pertanyaan ini. 
Apakah mungkin manusia mengetahui makna dirinya sendiri ?
Entahlah, sepertinya saya meragukan itu. Sebab kursi sebagaimana kursi tak mungkin tahu kenapa ia menjadi kursi , domba tak tahu kenapa ia jadi domba, pohon pun saya rasa tak tahu kenapa ia jadi pohon. Jadi mereka hanya mengikuti naluri bawaan alamiah nya dalam hidup. 
Jadi saya beranggapan bahwa manusia tidak mungkin dapat mengetahui makna lewat dirinya sendiri Kecuali diberi tahu oleh sang Penciptanya.
Selama manusia menganggap sesuatu yang diluar informasi Tuhan sebagai makna, maka sudah dapat dipastikan bahwa itu merupakan bulatan-bulatan naluri bawaan Manusia. Terlepas itu baik atau buruk.

Maka di sinilah saya menganggap sebagai pusat pentingnya iman. Sebuah sikap rendah hati dalam menuju pengetahuan yang obyektif. 

Lantas apakah orang yang beriman pasti menjunjung makna ?
Ah, itu soal lain.
Sebab manusia memang makhluk rasional. Tapi dalam pengambilan keputusan dan tindakan tidak se"rasional" itu. Ia bukan robot yang mudah diprogram dengan suatu sistem pemikiran dari level filosofis hingga menuju praktis. Ya, tepatnya ia adalah makhluk yang rumit. Dan makna tidak bisa diperdebatkan secara teoritis deduktif. Sebab ia adalah hak bagi setiap individu. Biarkan mereka memilih acuan makna masing-masing.  Toh keberagaman sebenarnya menunjukkan ketunggalan sumber yang tak lagi bisa dipisah-pisahkan oleh perdebatan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengetahuan-pengetahuan yang mungkin menyelamatkanmu ketika membaca kitab kuning

Urban Sufisme, Butuhkah?

Menyiasati Banking Education