Paradoks Hidup Manusia

 "Hidup adalah Keberanian Menghadapi Tanda Tanya", begitulah kata Soe Hoek Gie dalam salah satu tulisannya ketika ia berada di saat phoetic momen dalam sebuah pendakian gunung.

Entah apa yang dimaksud dengan ungkapannya ini. Tapi cukup mewakili kegelisahan saya saat ini. Meskipun Saya tidak tahu ungkapan ini ia tujukan untuk masalah apa, saya tak peduli. Memang begitulah begitulah kebiasaan seorang pemikir, suka melontarkan kata-kata yang bersifat deduktif universal. 

Ungkapannya ini akan saya arahkan ke salah satu bentuk paradoks Hidup Manusia.  


Kita tahu bahwa manusia memiliki sisi sosial dan individual. Bagaimana cara ia membawa diri dan bersikap dalam lingkup sosial tergantung pada pandangan yang ia ambil mengenai manusia. Mana yang sejati? Apakah manusia itu personal individual? Ataukah plural ?

Jika manusia sejatinya adalah sendiri, bagaimana ia bisa bersosialisasi dalam masyarakat? Sedangkan makna hidup ada dalam tanggung jawab sosial yang kita ambil.

Jika manusia sejatinya adalah plural, bagaimana ia bisa mendefinisikan dirinya sendiri? .


Secara gamblang akan saya ungkapkan dengan bahasa kasar berikut;


Jika kita mengambil sikap individualis tentunya kita hanya akan memikirkan diri sendiri dan menafikan tanggung jawab sosial. Orang lain hanyalah pion dalam bidak catur demi keuntungan kita pribadi. Kita melakukan sesuatu dengan perhitungan untung dan rugi. Memandang bahwa hubungan sosial hanyalah tukar tambah kepentingan.


Tapi jika jika mengambil sikap pluralis bagaimana kita memiliki karakter? Bagaimana kita bisa berdaulat atas diri kita sendiri?. Dengan mengambil peran sosial yang begitu dalam kita pasti akan terseret arus sosial. Apa yang menjadi keinginan orang banyak akan menjadi keinginan kita juga, apa yang menjadi kebenaran orang banyak akan menjadi kebenaran kita juga, apa yang menjadi kebaikan orang banyak akan menjadi kebaikan kita juga. 

Ya, kita akan terapung seperti sampah di arus air sungai mengalir.


Ataukah harus ada batasan seberapa jauh kita bersosial dan seberapa jauh kita menarik diri ke dalam?


Apa jawabannya? Tentu tergantung konsep yang kita ambil. Tapi jika merujuk dari diri manusia yang tidak sepenuhnya rasional dan konsisten dengan prinsip yang ia ambil agaknya ini hanya akan berakhir dalam wacana perdebatan pemikiran. Tak ada salahnya juga, namanya juga pencarian akan definisi. Seberapa ia terjangkau ya tergantung seberapa dalam si pencari.

Maka jawabannya bisa Ya, bisa Tidak, bisa juga bukan Ya bukan Tidak.


disini Saya tawarkan falsafah hidup Jawa yang saya ambil dari salah satu pertunjukan seni Wayang dalam cerita lima Pandawa berusaha mencapai kesempurnaan kematian agar bisa kembali pada kesejatian setelah memenangkan perang Baratayudha. Di situ sang dalang membuka pertunjukan dengan kalimat berikut;


Urip Ono alam Padang Iki mung sak dermo, ngelaksanaake Titahe Gusti, sedoyo kudu tinampi Kanti ati kang nyegoro, susah seneng kudu dilakoni Kanti ikhlas. Koyo dene Pandowo ingkang tansah lurus anggone nglampahi titah dadi ksatrio, ora tahu nggersah senajan ngadepi Kabeh beboyoning Urip . Iki wes wancine Pandowo kundur saking janaloka, amergo wes rampung oleh e nglakoni titah.


Bagaimana anda memaknai ini?

Haruskah pertanyaan diatas dijawab dengan jelas?

Entahlah, saya mulai ragu.. 😄




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengetahuan-pengetahuan yang mungkin menyelamatkanmu ketika membaca kitab kuning

Urban Sufisme, Butuhkah?

Menyiasati Banking Education