Wajibkah Filsafat pendidikan?
Wajibkah mempelajari filsafat pendidikan sebelum masuk dalam dunia pendidikan?. Sebelum menjawab pertanyaan ini, perlu kita ketahui bahwa segala bentuk pertanyaan pasti memiliki muara dan tujuan. sehingga jawabannya pun bisa jadi sangat berbeda meskipun pertanyaannya sama. Jadi ya dan tidaknya tergantung apa dan mengapanya. Wajib jika bla, bla, bla, . tidak wajib jika bla, bla, bla. Untuk menjawab pertanyaan ini perlu kita telisik kembali apa yang dimaksud dengan kata filsafat dan kata pendidikan.
Filsafat secara umum diartikan sebagai proses
berfikir yang kritis, mendasar, dan radikal. Sedangkan pendidikan berarti proses
upaya merubah manusia menjadi lebih baik (terdidik) yang kemudian tertuang
dalam bentuk kegiatan maupun pelatihan-pelatihan tertentu. Filsafat pendidikan
artinya pemikiran kritis, mendasar, dan radikal mengenai upaya merubah manusia
tersebut.
Belakangan ini makna pendidikan telah bergeser
dari keumumannya menuju makna yang sangat kecil dan sempit, sekolah. Entah
mengapa manusia begitu doyan dengan simbol-simbol, meskipun simbol tersebut
dengan sangat arogan dan culas menafikan hal lain yang mestinya lebih pantas
menyandangnya. Jika simbol pendidikan adalah sekolah maka simbol terdidik
adalah ijazah. Meskipun pada dasarnya setiap manusia itu unik, dalam arti
mempunyai memiliki keistimewaan sendiri-sendiri, sayangnya dunia sekolah tidak
mau mengenal itu semua. Tanpa ijazah berarti anda tidak punya latar belakang
pendidikan, dan sebagai kesimpulannya anda tidak terdidik.
Sebagaimana imbas dari sempitnya ruang adalah
ketidakleluasaan gerak, pun demikian imbas dari kesempitan makna adalah
kesempitan pikiran dan perspektif. Kotak-kotak sosial semakin bertambah menjadi
partikel-partikel kecil yang turut menyumbang kesempitan ruang dan makna
kehidupan. Banyak manusia semakin tidak percaya diri, minder dan cemas akan
beban hidupnya yang semakin berat akibat kotak sosial yang tak mampu ia
jangkau. Standar-standar baru yang bermunculan menambah hiruk-pikuk persaingan
nisbi yang entah dimana ujungnya. Sedangkan simbol pendidikan yang menjadi
harapan terakhir untuk menjaga kewarasan manusia justru beramai-ramai menilai
dan menghakimi siapa berhasil dan tidak dengan adanya buku rapor dan ranking. Manusia
yang secara fitrah penciptaannya diperintahkan hidup berdampingan dan saling
menopang satu sama lain, kini sejak dini dilatih untuk bersaing, saling
mengalahkan serta menjatuhkan satu sama lain.
Kita tahu bahwa sudah menjadi ketetapan Tuhan
bahwa manusia diciptakan sangat beragam. Tapi entah mengapa manusia suka sekali
menentangnya. Seolah merasa paling benar, simbol pendidikan justru menjadi
garda terdepan dalam upaya memperjuangkan keseragaman. Ada seragam guru, ada
seragam siswa. Semua harus berseragam. Jika Identitas adalah pembeda dari yang
lain maka ada semacam fanatisme yang diam-diam dibangun untuk melanggengkan
jurang pemisah antara guru dan siswa. Dalam lingkungan semacam ini jangan
bermimpi sekolah akan terbebas dari banking education yang dulu telah
dikritik habis oleh Paulo Freire. Sekolah tidak akan pernah melahirkan
temuan-temuan baru, ia hanya akan berkutat pada teks yang didektekan oleh
pemerintah lewat kementrian pendidikan. Dialektika guru dan siswa hanyalah
dialektika nisbi, sebab semuanya hanya mengulang-ulang hal yang telah ada di
dalam kotak. Tema percakapan tidak akan berkembang sampai diluar kotak LKS dan
kurikulum Nasional yang sama sekali tidak memerdekakan.
Tidak cukup itu, dalam wilayah ini rambut saja
tidak boleh panjang. Rambut anda boleh lurus, ikal, maupun kriting gaya afro
sekalipun asalkan satu, jangan panjang. Entah apa hubungannya ukuran rambut
dengan pendidikan tapi peraturan ini nyaris terdapat dalam semua sekolah di
negara kita. Jika peraturan ini diterapkan di pabrik dan industri lain mungkin
kita dapat memaklumi bahwa itu adalah demi keselamatan kerja. Sebab rambut
panjang yang tergerai mudah sekali tersangkut pada bagian-bagian mesin yang
bergerak. Tapi ini adalah sekolah, bukan industri. Apakah peserta didik sekolah
memang dipersiapkan untuk dunia kerja seperti itu? Entahlah.
Jika kita teliti lebih dalam, penyeragaman ini tidak
hanya berhenti pada pakaian dan penampilan, tapi juga sampai pada wilayah
pikiran dan doktrin atas kebenaran. Mereka yang berbeda akan mendapatkan
hukuman atas fitrahnya sendiri. Fitrah yang suci justru adalah dosa sosial yang
harus segera ditangani. Peraturan-peraturan dengan dalih kedisiplinan
bermunculan dan menjamur, menjadi bibit-bibit ketakutan serta rasa tidak
percaya diri. Maka jangan bermimpi untuk tampil di panggung dunia jika di
lingkungan sendiri saja dibuang dan diacuhkan.
Diantara
watak dasar manusia juga adalah doyan mengelompokkan. Maka kemudian
diciptakanlah kelas-kelas guna untuk mengelompokkan peserta didik sesuai
jenisnya. Ini memang perlu jika pengelompokannya berdasarkan kemampuan serta
kesiapan peserta didik dalam menerima pengetahuan. Sebagaimana pernah dikatakan
al Ghazali dalam salah satu karyanya, bahwa mencampur peserta didik tanpa
mempertimbangkan kemampuan serta kesiapan mereka hanya akan menjadikan yang
lemah semakin putus asa dan yang kuat menjadi bosan. Akan tetapi masalahnya
adalah sistem kelas yang diterapkan sekarang bukan berdasarkan kemampuan serta
kesiapan peserta didik, akan tetapi lebih cenderung pada kelompok umur. Anak
umur sekian harus di kelas sekian. Kurang atau lebihnya tak bisa diterima
dengan alasan administratif. Anda bisa
bayangkan sekolah sebagai simbol pendidikan begitu eksklusif, tertutup dan lebih
jauh lagi telah angkat kaki dari fungsi dasarnya sebagai ladang pengetahuan
masyarakat. Alih-alih sebagai ujung tombak pencerdasan kehidupan bangsa,
sekolah lebih terlihat sebagai wadah penitipan anak dengan pengasuh-pengasuh
yang berijazah dan sedikit lebih berpengetahuan. Disadari maupun tidak, sistem
klaster berdasarkan umur inilah yang menjadikan nilai-nilai pengetahuan tidak
pernah mengakar kuat dalam benak masyarakat kita. Dengan adanya klaster umur,
alam kesadaran kita telah dijejali oleh sekat-sekat ilusi tentang usia sekolah,
usia kerja, dan usia senja. Usia sekolah artinya usia wajib belajar, setelah
usia ini terlewati tidak ada tuntutan sama-sekali secara sosio kultural untuk
tetap belajar. Bahkan membaca buku pun dianggap tabu dan lucu. Sedangkan usia
kerja berarti usia dimana seseorang harus bekerja, berpenghasilan, dan mapan.
Tidak ada lagi kata belajar dalam kamus rentang usia ini, terlebih lagi bagi
mereka yang bekerja sebagai buruh kasar yang dimanfaatkan tenaganya, bukan ide
serta gagasannya. Adapun usia senja artinya usia dimana seseorang telah purna,
hidup hanya tinggal menikmati tabungan hari tua, bercengkrama dengan keluarga,
anak-cucu serta teman-teman sebaya sembari menunggu waktu kematian tiba.
Orang-orang dengan rentang usia seperti ini, meskipun dengan segudang
pengalaman lintas generasi, harus segera disingkirkan. Entah dengan alasan
kesehatan maupun gagasan yang dianggap tidak lagi relevan.
Apa yang perlu dikembangkan dari peserta didik
adalah alasan munculnya kurikulum dengan sederet kegiatan dan juga mata
pelajaran yang bertumpuk-tumpuk dalam meja kementrian pendidikan. Sayangnya
orientasi pengembangan ini tidak berangkat dari peserta didik, tapi bertolak
dari egoisme orang-orang dewasa yang selalu mengedepankan pandangan idealisnya
secara subyektif. Anda mungkin bertanya, model otak yang seperti apa dapat
menyerap berbagai macam pengetahuan saintifik sekaligus dogma serta nilai agama
dengan menghafal materi sekaligus penalarannya pada usia belia?. Saya yakin
semua orang, bahkan orang paling cerdas sekalipun tidak akan mampu menelaah
semua mata pelajaran dalam satu waktu yang bersamaan secara maksimal. Kemampuan
manusia terbatas. Tidak hanya soal memori, tapi juga penalaran pada setiap
bidang keilmuan tentu butuh waktu. Dan itupun tidak dilakukan secara bersamaan
dan serampangan seperti sekarang.
Secara pribadi saya heran, mengapa masalah ini
tidak segera diselesaikan dan dicari solusinya? Padahal alasan untuk merombak
hal ini saya kira sudah cukup kuat, baik alasan secara teoritis maupun
observasi empiris. Secara teoritis, dari ilmu psikologi semisal, telah banyak
yang mengemukakan tentang rentang keterbatasan fokus manusia dalam menerima
informasi berdasarkan usia. Belum lagi yang biasa dikemukakan oleh para pakar
pendidikan Islam zaman dahulu, dalam Ta’lim Muta’allim semisal,
dikemukakan bahwa metode belajar yang baik adalah dengan fokus pada salah satu
fan keilmuan sampai mahir baru kemudian berpindah pada fan lain.
Secara observasi empiris, khususnya wawancara yang
saya lakukan, banyak anak merasa lelah dengan sekolah. Bukan dengan sekolahnya
secara global sebenarnya, tapi dengan pelajarannya. Anak mungkin suka dengan
sekolah sebab berbagai faktor, tapi tidak dengan pelajaran. Kita seperti selalu
gagal menanamkan kecintaan pada pengetahuan secara umum dan menyeluruh. padahal
jika kita telaah secara mendalam, semua ilmu pasti terintegrasi secara untuh,
saling berkaitan dan membentuk satu
kebenaran universal. Tapi mengapa kita selalu mendapati anak ada yang suka
dengan pelajaran ini, tidak suka dengan pelajaran itu, atau tidak suka
pelajaran sama sekali? mungkinkah karena kita selalu terburu-buru dalam
menanamkan sesuatu? Layaknya berkebun, kita ingin menanamkan segala jenis
tanaman, bunga, pohon, dan berbagai tumbuhan, tanpa tahu karakteristik tanah,
letak geografis, dan bahkan jenis pupuk yang dipakai dalam setiap fase
perkembangan. Saya selalu bertanya dalam hati, dengan sistem yang seperti ini
apa sebenarnya yang dikejar oleh pemerintah pada rakyatnya? Pada anak cucu
bangsanya. Sebab ini jelas bukan sebuah ketidak sengajaan atau ketidaktahuan.
Pada sisi kognitif anak kita telah terbebani
dengan berbagai macam pelajaran. Mereka diharuskan menyimak, menghafal, dan
juga menalar berbagai pelajaran yang tidak menarik baginya, tidak ia minati,
dan mungkin ia benci. Dari sini sudah jelas bahwa sistem yang kita bangun telah
gagal menakar apa yang harus, apa yang sebaiknya, dan apa yang jangan dulu
menjadi konsumsi bagi siswa. Ini baru jenis pelajarannya, belum pada takaran
isi materi pelajarannya. Semua mestinya sudah harus dipikirkan matang-matang
sesuai dengan fase perkembangan anak. Jangan hanya karena mengejar peringkat IQ
dunia agar dianggap maju, anak dibebani dengan materi pelajaran yang belum
saatnya ia kecap. Sebagaimana yang dikemukakan dalam falsafah hukum islam,
barangsiapa terburu-buru akan sesuatu sebelum waktunya maka ia akan menderita
atas kehilangannya. Artinya peringkat IQ tidak tercapai dan anak tidak bisa
memaksimalkan fase emasnya secara maksimal.
Pada sisi afektif kita tidak kalah gagalnya. Meskipun
kita tahu bahwa pada setiap fase usia, anak tidak hanya tumbuh secara fisik,
tapi juga secara mental dan emosional. Dan pertumbuhan ini memiliki
tahapan-tahapan serta kondisi-kondisi idealnya masing-masing di setiap fasenya.
Tapi lagi-lagi kita tidak pernah mempedulikannya. Dalam ranah benar dan salah
kita ukur mereka dengan ukuran kita orang dewasa, juga dalam hal baik dan buruk
tidak ketinggalan juga kita ukur dengan ukuran kita. Kita selalu marah-marah
pada aanak yang malas belajar, tidak memperhatikan ketika pembelajaran, atau
gaduh dengan temannya saat kita menjelaskan materi pelajaran. Tanpa
mempertimbangkan berbagai faktor, kita sebagai orang suci tanpa tanda jasa ini
spontan merasa tidak dihargai, direndahkan martabatnya, dan diacuhkan segala
bentuk jasanya. Dan akhirnya kita dengan hati yang penuh amarah melabeli anak
yang mungkin belum dihitung dosanya itu dengan sebutan “anak nakal”. Naasnya,
sebutan ini akan selalu melekat pada mereka seiring dengan kebencian yang tidak
memudar itu. Maha benar seorang guru, anak nakal tidak manfaat ilmunya, akan
sulit hidupnya. yang baik hanyalah murid pendiam, penurut, tidak suka
membantah, dan tentunya yang beretika seperti orang tua yang pasif dan tidak
berani bersuara.
Siapa yang memulai ini semua? Bagaimana awal
mulanya? Sungguh pertanyaan yang angkuh bagi mereka yang tak pernah mempelajari
filsafat, atau bagi mereka yang telah memperoleh banyak keuntungan dari dunia
pendidikan yang mapan sekarang. Padahal ini adalah pertanyaan dasar. Jika kita
kembali pada pertanyaan awal, wajib atau perlukah mempelajari filsafat
pendidikan sebelum memasuki dunia pendidikan? Maka dengan segala uraian di
atas, jawabannya adalah tidak perlu dan tidak wajib. Bagi anda calon-calon
robot pendidik maupun tenaga kependidikan yang bertindak by desain, by
program, dan by system tentu filsafat sangat tidak perlu dan hanya
buang-buang waktu. Sedangkan sebuah pertanyaan mendasar seperti “kemana arah
pendidikan kita?” adalah sampah pikiran yang harus segera dibersihkan.
Komentar
Posting Komentar