Menyiasati Banking Education


 Ngaji Yes, Banking Education No !

...

Inilah yg saya maksud dengan kemandirian dalam belajar. Mandiri bukan berarti tanpa guru, sebagaimana prasangka orang cupet kurang kopi ketika mendengar orasi rempeyek melempem saya, akan tetapi yg saya maksud kemandirian dalam belajar merupakan keadaan sadar pada diri untuk mengalami sendiri materi ilmu . Berusah memahami karena merasa butuh mengerti. Itulah kemandirian,. !


Teman teman siswa atau mahasiswa mungkin merasakan serunya sekolah atau kuliah hanya pada aspek sosial , teman yg gokil, mantan pacar, guru atau dosen killer, Bu guru cantik , atau gorengan kantin yg seperti triplek. 

Lantas dimana kenangan manis tentang keilmuan ? Siapa yg membuatnya terlupakan ? , Mungkin jin dari Baghdad yang telah menyihir kita..

Apa yg terjadi ?

Sebenarnya banyak pakar yg telah mengkritik mental pelajar dan sistem pendidikan kita. Diantaranya mungkin para siswa atau mahasiswa yg dipaksa mempelajari apa yang tidak ingin mereka pelajari . Adalagi mungkin metode pengajaran yang terkesan hanya mentransfer pengetahuan yang akhirnya menjadikan anak didik kita hanya sebagai penerima , bukan pelaku !

..

Lantas apakah siswa tidak boleh di ajar dgn metode ceramah ?

 Ah,

 Tentu boleh...

Saya katakan lagi ini hanya soal kemandirian !

..

Lantas bagaimana caranya metode ceramah dapat menghindari sikap dan mental anak didik yang hanya mau menerima tanpa berusaha ?

..

Jawabannya mudah sekali (tentunya kalau sampeyan mau tahu, bukan tempe)

Lihat foto ini, yang tentunya bukan cuma buat pemanis rasa,. Hehehe .

.

Ia sedang berusaha memaknai kitab yang nanti akan d ajarkan gurunya. Yang tentunya nanti di cocokkan , biar ada dialektika, katanya. 

Atau mungkin mau sparing otak ya ? Hehe

Entahlah,

Apapun tujuannya itulah contoh kemandirian di dalam sistem yang memanjakan, atau bahasa ekonominya,

"Jiwa Sosialis di dalam Tubuh Kapitalis" , begitulah kiranya..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengetahuan-pengetahuan yang mungkin menyelamatkanmu ketika membaca kitab kuning

Urban Sufisme, Butuhkah?