Pengetahuan-pengetahuan yang mungkin menyelamatkanmu ketika membaca kitab kuning
BERKAITAN DENGAN FI’IL
MADHI
1. 1. Menentukan
Harokat Fa’ fi’il
Jika suatu
ketika kalian menemui lafadz seperti قلت maka
waspadalah, sebab perbedaan keputusan harokat yang kalian ambil pada fa’
fi’ilnya (huruf qof) akan menimbulkan perbedaan makna. Jika kalian
mengharokatinya dengan dlommah maka bermakna “berkata”. Dan Jika kalian
mengharokatinya dengan kasroh maka akan bermakna “tidur siang”.
Hal ini
disebabkan karena jika kalian memilih dlommah maka ia berasal dari قَال (bina’ ajwaf wawi) dari mashdar قول . sedang jika
kalian kasroh maka ia berasal dari قال (bina’ ajwaf
ya’i) dari mashdar قيلولة
2. 2. Amil Nashob dan
amil jazem yang masuk pada fiil madli
Jika suatu
ketika kalian menemui اِنْ
(syartiyah amil jazem) masuk pada fiil madhi maka ketahuilah bahwa fiil
madli tersebut bermahal jazem, berbeda dengan اَنْ (mashdariyah amil nashob) ketika masuk
pada fiil madhi. Maka ketahuilah bahwa ia tidak menjadikannya bermahal nashob. Hal
ini disebabkan اِنْ
(syartiyah amil jazem) merubah zaman fiil madhi menjadi istiqbal, sedangkan اَنْ (mashdariyah amil nashob) tidak merubah
zamannya, maka ia hanya berlaku mashdariyah bukan amil nashob.
3. 3. Fi’il Jamid
Jika kalian
menemui fi’il seperti لَيْسَ, عَسَى , نِعْمَ, بِئْسَ maka jangan pernah mencari bentuk
turunan mudlori’ atau amarnya, apalagi isim fa’il dan sebagainya. Sebab
fi’il-fi’il tersebut adalah termasuk fi’il jamid. Pada dasarnya fi’il jamid
adalah lawan dari fi’il mutashorrif yang merupakan fi’il pada umumnya yang bisa
berubah pada bentuk lain. Sedangkan fi’il jamid hanya menetapi satu bentuk
saja. Jadi pengertian jamid pada konteks kalimah fi’il dan isim itu berbeda.
4. 4. Zaman Fiil Madhi
Jika kalian
berfikir bahwa bentuk fi’il madli pasti menunjukkan zaman madhi maka kalian
akan terbentur-bentur dengan fakta bahwa kenyataannya tidaklah demikian.
Seperti pada contoh :
مَنْ صَبَرَ ظَفِرَ (barangsiapa bersabar maka akan mendapatkan) menunjukkan
zaman hal, dimana keberhasilan selalu digantungkan pada kesabaran tanpa terikat
waktu kapanpun itu diucapkan. Dalam contoh seperti ini fi’il madli ditakwil
dengan fi’il mudlori’.
Sebagaimana juga
ketika dua fi’il madli jatuh dalam dua jumlah yang mengandung nafi dan itsbat.
Seperti contoh: مَا نَهَضَ اَحَدٌ غَاضِبًا اِلَّا وَجَلَسَ خَاسِرًا
(tidaklah seseorang berdiri dalam keadaan marah kecuali ia duduk dalam keadaan
merugi).
Begitupun
seperti contoh اِنْ قَامَ زَيْدٌ قَامَ عَمرٌ (jika nanti Zaid berdiri maka Amar pun
berdiri). Dalam contoh ini fi’il madhinya berzaman istiqbal dimana berdirinya
Amar tergantung pada berdirinya Zaid di masa mendatang.
Juga
seperti ketika fi’il madli jatuh setelah يكون قد yang menjadi
jawab dari syarat. Contoh :
اِذَا سَبَقْتَهُ تَكُوْنُ قَدْ اَحْرَزْتَ
النَّصْرَ (ketika nanti kamu dapat mendahuluinya
maka kamu sungguh memastikan kemenangan). contoh ini fi’il madhinya berzaman
istiqbal dimana kepastian kemenanganmu tergantung pada kedapatanmu mendahuluinya
nanti.
Komentar
Posting Komentar