Urban Sufisme, Butuhkah?

 Tulisan ini bukan karya ilmiah. Jauh dari kata  akademis bahkan. Tapi mungkin patut untuk menjadi perenungan kita bersama. Istilah urban sufisme disini  menyadur istilah teman saya yang sok keren. Maka percayalah bahwa isi tulisan ini tidak terwakili oleh judul yang saya pampangkan.

 Jika Ia mengartikannya sebagai gerakan masyarakat kota dalam mencari ketenangan batin yang disebabkan keringnya sumur spiritualitas yang disebabkan gerusan  kebutuhan jasmani, Maka dalam tulisan ini saya belokkan maknanya pada butuhkah orang modern terhadap tasawuf.


Tasawuf sering diartikan oleh para sarjana sebagai wacana psikologi islami, dimana sebagian besar isinya adalah mengenai jiwa manusia dan berbagai unsur-unsur nya yang sejati. 

Kembali pada judul. Butuhkah orang modern terhadap tasawuf?


Jika memandang kondisi dunia sekarang hampir dipastikan ya. 

Dengan arus informasi yang begitu deras dan komunikasi yang begitu cepat, kita seakan gagap dan gugup bagaimana menyikapi semua itu. Kita jadi mudah lelah. Otak kita tak pernah berhenti berpikir. Hal penting, tidak begitu penting dan bahkan tidak penting sama sekali tumpang tindih berjejal dan berserakan disana sini. Seakan almari otak kita tak sanggup lagi memilah data sesuai dengan raknya masing-masing.


Bandingkan dengan dahulu sebelum era ini dimulai. Kita begitu santai. Kita bisa fokus dengan apa tugas hari ini. Hal besok, sebulan, atau setahun kedepan belum terpikirkan. Karena minimnya adanya data yang menjadi indikator ramalan atas apa yang terjadi nanti.


Kita ambil contoh pedagang hari ini. Pikiran mereka begitu sibuk. Dengan cepatnya arus informasi mereka bingung menentukan suplayer yang memasang harga termurah, peluang-peluang pasar yang lebih luas, persaingan yang begitu ketat, daerah dengan nilai upah rendah, dan lain sebagainya. Segala pertimbangan tadi berjejal secara bersamaan setiap hari. Hingga akhirnya keinginan, hasrat, ekspektasi dan impian mereka menjadi sangat liar dan menggila, serakah dan ambisius. Mereka bahkan lupa menikmati hasil jerih payahnya hari ini (apalagi mensyukuri) karena terseret keinginan yang lebih besar.

Saya bisa katakan Hampir semua lini kehidupan mengalami badai ini. Semua orang menjadi sangat tergesa-gesa dan tidak sabar dengan proses. Pekerjaan hari ini belum selesai sudah terpikir pekerjaan besok, lusa, bahkan tahun depan. 

Entahlah, mungkin kita masih dalam masa transisi untuk lebih bisa menyeimbangkan diri. 

Tapi sampai kapan? Butuh berapa generasi untuk dapat sepenuhnya bebas dari tekanan seperti ini? 


Maka jangan lama-lama. Saya harap kita segera sadar dan mawas diri. Sebab tanpa terasa kita hidup dalam lembah khayalan semu yang seolah itu nyata hanya berdasarkan beberapa data sekaligus persepsinya. 


Hari ini saya lihat perlawanan itu mulai muncul. Banyak diminatinya buku filsafat stoa atau maraknya Buddhisme dengan segala ritualnya agaknya menjadi tanda kejengahan beberapa orang dengan situasi saat ini.

Bagi kita seorang muslim kedamaian batin dan kekuatan jiwa diajarkan oleh para ulama' terdahulu dalam literatur tasawuf. 

Atau kita masyarakat Jawa bisa juga menilik pada falsafah hidup Jawa sebab keduanya sangat berdekatan.


Pada akhirnya kita sendirilah yang memilih mau hidup seperti apa. Sebab susah atau bahagia menurut saya adalah pilihan dan cara pandang. ان مع العسر يسرا setiap ada kesulitan bersamanya ada kemudahan di sisi lain. 

Pada akhirnya kita harus hidup pada saat ini. Sebab tadi adalah catatan, nanti hanyalah khayalan. 

Jika meminjam ungkapan cak nun " Urip Kuwi seng penting ora arep dadi OPO, tapi arep Lapo". Begitulah kira-kira.

 والله اعلم 😃


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengetahuan-pengetahuan yang mungkin menyelamatkanmu ketika membaca kitab kuning

Menyiasati Banking Education