pengetahuan yang mungkin menyelamatkanmu ketika membaca kitab kuning (part 2)

 

BERKAITAN DENGAN FI’IL MUDHORI’

1.      يَضْرِبَانِّ – يَضْرِبُنَّ - تَضْرِبِنَّ

Jika kalian tahu bahwa syarat nun taukid bisa menjadikan fi’il mudlori’ dimabnikan fathah adalah nun taukidnya harus mubasyiroh (bertemu langsung tanpa ditengahi oleh alif tatsniyah, wawu jamak, ya’ mu’annats mukhothobah) maka tentunya kalian tahu bahwa tiga contoh diatas adalah fi’il mudhori’ mu’rob  berupa af’alul khomsah. Dengan pemahaman ini tentunya kalian akan bertanya “dimana nun tanda i’robnya?”.

Ketahuilah bahwa tidak mungkin mengumpulkan tiga nun sekaligus. Maka nun yang kalian lihat dalam contoh diatas adalah nun taukid. Sedangkan nun tanda i’robnya dikira-kirakan. Maka sebagaimana ada i’rob dengan harokat yang dikira-kirakan, ada pula i’rob dengan huruf yang dikira-kirakan. (lihat syarah imrithi)


2.      اِخَالُ

Jika suatu saat kalian menemui lafadz ini, tak usah bingung. Ketahuilah bahwa lafadz ini merupakan fi’il mudlori’ dari خَالَ yang bermakna ظنّ. Adapun masalah huruf mudloro’ahnya dibaca kasroh, ini adalah sebuah keistimewaan dan kekhususan yang dimiliki oleh bentuk mutakallim wahdahnya. Adapu selain hamzah mudhoro’ah maka dibaca fathah.


3.      لَمْ تَسْطِعْ

Jika kalian mengira bahwa fiil mudlori’  diatas berasal dari madli سَطَعَ maka kalian keliru sekeliru-kelirunya. Ketahuilah bahwa dalam fi’il mudlori’ diatas terdapat pembuangan ta’ nya wazan

افتعل – يفتعل . jadi asalnya adalah لَمْ تَسْتَطِعْ . sebagaimana juga berlaku pada fi’il madlinya yaitu اسْطَاعَ yang asalnya adalah اسْتَطَاعَ .

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengetahuan-pengetahuan yang mungkin menyelamatkanmu ketika membaca kitab kuning

Urban Sufisme, Butuhkah?

Menyiasati Banking Education