Semua Solusi akan Basi
Ya, semua solusi akan Basi pada waktunya. Tak percaya? Buktikan sendiri. Disadari maupun tidak masalah yang dihadapi oleh manusia akan terus meng upgrade dirinya. Oleh sebab itu manusia mencari solusinya. Jadilah ilmu pengetahuan berkembang sedemikian rupa seperti ini.
Apakah bentuk pengetahuan dan kehidupan kita sekarang sudah final? Tentu tidak. Sebab ternyata solusi yang kita pilih menimbulkan masalah baru.
Benar kata Iksan skuter, menjadi manusia adalah masalah bagi manusia.
Bentuk dunia yang sekarang dengan berbagai ideologi, kebudayaan, dan ilmu pengetahuannya merupakan dunia versi sekian dari ragam bentuk upgrade sejarah yang telah kita lalui.
Karena kita sekarang adalah versi terbaru, apakah kita berarti kita adalah versi terbaik?
Eits,
Tunggu dulu, tinggal kita melihat ukuran baiknya dari mana. Jika dari kemajuan teknologi dan pemberdayaan sumber alam mungkin iya, tapi jika dari indeks kebahagiaan manusia nya mungkin tidak. Kita tahu dunia modern telah banyak menguras kebahagiaan manusia disebabkan kontrol sosial, ekonomi, dan budaya yang tidak kita sadari telah menindas kemanusiaan kita habis-habisan.
Tapi saya tidak sedang membahas itu sebagai fokus tulisan ini. Trlalu berat dan luas. Saya tak mampu.
Sebagaimana yang terjadi di dunia secara global upgrade masalah serta solusi juga terjadi dalam diri tiap individu manusia.
Kita selalu butuh jawaban terbaru atas segala permasalahan yang kita hadapi. Entah mengapa kita selalu rakus akan solusi. Seolah segala permasalahan harus diselesaikan. Dan sayangnya kita selalu terburu-buru mendapatkannya. Sehingga masalah pun bertambah menjadi dua. Masalah pertama ditambah masalah tidak adanya solusi.
Ambil contoh teman saya yang sedang patah hati. Solusi Pertama, sabar pasti ada hikmahnya. Pada mulanya berhasil. Sudah Tenang hatinya. Tapi Seiring berjalannya waktu kegelisahannya muncul kembali. Ia mencari solusi lagi. Lama ia berfikir. Tak juga ketemu, bahkan ia mengumpat "sabar iku Ono Bates e".
Akhirnya ia menemukan bahwa hidup cuma sementara, tak ada gunanya bersedih. Hanya akan merugikan diri sendiri. Oke, berhasil. Selang beberapa hari kambuh lagi. Muncul lagi umpatan " Urip sedelok ae kok Yo ngene pisan". Tumbang lagi dia dalam kesedihan.
Meraung-raung lagi.
Berfikir lah ia lagi,. Lama lagi ia tak menemukan solusi bagi hatinya yang perih.
Pada suatu ketika ia melihat ada orang lain yang mengalami hal serupa. Tapi terlihat lebih tegar.
Ia pun kagum. Dan diam-diam hatinya tenang sebab ia merasa harus bisa mencontohnya.
Tak berhenti di situ tak lama ia melihat orang tadi telah menemukan pengganti. Orang itu telah bahagia dg pasangan barunya.
Ah, ia langsung sedih lagi. Ia mengumpat lagi "enak sekali dia, baru putus sebentar sudah dapat pengganti lagi".
...
Bingung lagi dia. Apa solusinya adalah mencari pengganti? Mungkin, gumamnya.
Ia pun mencari orang lain . Pasangan baru. Setelah dapat ternyata kembali ia bersedih. Tak tenang hatinya. Ia merasa pasangannya tidak sebaik sebelumnya.
Putus lagi.
Frustasi.
Ia pun jalan-jalan. Pergi berlibur. Tak juga hatinya bahagia.
...
Pelik sekali kelihatannya. Ya memang pelik. Kedung jero iso dijajaki tapi atine menungso sopo seng ngerti?, Kata pepatah Jawa.
Pernahkah Anda mengalami seperti ini?
Dengan apa anda mendapatkan solusi?.
Jujur Saya tak punya solusinya.
Saya hanya bisa menarik kesimpulan.
Bahwa kita selalu serakah. Apalagi terhadap kebahagiaan. Serakahnya bukan main. Padahal sebagaimana yang saya kemukakan tadi sering kali keserakahan kita itulah yang menjadi sumber dari permasalahan dan kegelisahan kita saat ini.
Lantas bagaimana sebaiknya? Entahlah..
Komentar
Posting Komentar