Bahasa Sebagai Produk Budaya
Anda tak perlu terlalu wah dengan judul. Sebab isi tulisan ini tak semewah judulnya. Ditambah lagi pembahasan di dalamnya mungkin agak sedikit jorok. Jadi pastikan anda telah cukup berumur saat membaca tulisan ini. Selain itu tulisan ini hanyalah opini yang sangat Mempunyai celah untuk disanggah. Jadi jangan sungkan-sungkan untuk menulis sanggahan tulisan yang tidak ilmiah ini di kolom komentar.
Saya termasuk orang yang percaya bahwa kemampuan seseorang dalam berbahasa menandakan tingkat intelegensi orang tersebut. Alasannya sederhana. Seberapa ia mampu menyebutkan dan mengolah kata sebegitu pula pengetahuan dan kemampuan pemetaan yang ia miliki.
Saya juga percaya bahwa bentuk kata sebagai pengungkapan suatu makna sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dipegang teguh oleh Budaya orang-orang setempat yang menyepakati kata itu.
Hal ini saya yakini setelah terbersit tentang cara pengungkapan kata hubungan intim pria dan wanita dalam bahasa Jawa dan bahasa Inggris.
Entah sadar atau tidak kita tidak pernah mendengar bahasa Jawa yang memiliki kesan bagus atau indah dalam mengungkapkan hubungan intim pria dan wanita. Hampir semuanya memberikan kesan jelek. "Ngencuk", "ngenthu", "nyempet", dll. Bahkan kata-kata ini tergolong kata yang tak pantas.
Disini kita bisa menganggap bahwa budaya Jawa tidak menganggap hubungan intim adalah sesuatu yang penting, indah, atau tujuan dalam falsafah kehidupan. Dan bisa dibilang hal tersebut merupakan aib dan sesuatu yang tidak pantas untuk dihadirkan dalam perbincangan masyarakat.
Hal ini tidak mengherankan jika kita menelaah falsafah hidup Jawa yang kental dengan istilah tirakat, mengekang hawa nafsu, dan lebih mementingkan kesejatian hidup daripada kesenangan-kesenangan sesaat.
Ini akan sangat berbanding berbalik jika kita bandingkan dengan bahasa Inggris. Meskipun ada kata "fuck" tapi tersedia kata lain yang memiliki kesan baik dan indah. Sebut saja seperti kata "Make Love" yang mulai diikuti oleh orang orang kota dengan sebutan "bercinta".
Disini kita bisa menerka bahwa dalam budaya barat hubungan intim merupakan sesuatu yang penting, baik dan memiliki sisi keindahan.
Hal ini tidak mengherankan jika kita melihat nilai dan falsafah hidup orang barat. Individualisme yang kental dan juga utilitarianisme sebagai pandangan etis sangat mempengaruhi pandangan nilai mereka terhadap hubungan intim.
Sebagai catatan saja kita bisa melihat begitu epicnya mereka mengagungkan cerita Romeo and Juliet yang rela melawan keluarga demi perjuangan cinta hingga harus ditebus dengan kematian. Ada juga valentine day yang mereka peringati. Selain itu ide-ide alur cerita film yang mengisahkan tentang kawin lari dan sejenisnya tidak lain adalah dari barat yang banyak ditiru oleh sutradara Indonesia baik film maupun sinetron.
Saya tidak mengatakan bahwa dari dulu hingga sekarang peristiwa perjuangan cinta dengan jalan kawin lari tidak pernah terjadi di masyarakat Jawa . Tapi yang saya maksud adalah hal demikian itu tidak pernah menjadi suatu nilai maupun hal baik yang perlu dibela dalam Masyarakat Jawa.
Nah, dalam era komunikasi yang sangat deras ini orang tidak lagi terbatas sebagai warga dari ras maupun tempat tertentu. Kita sekarang adalah warga dunia yang sudah global ini. Falsafah, ideologi, kebudayaan, nilai, semuanya tumpang tindih dalam berbagai informasi yang menjejal di kepala kita.
Pertanyaan saya, apakah kata "ngencuk" akan menjadi indah nantinya?,
Entahlah, patut kita tunggu kabar dunia selanjutnya.
Dalam hemat saya, jika iklan kondom, obat kuat bahkan alat bantu sex sudah sangat gencar dan menjadi wajar serta netral dalam kehidupan sehari-hari kita, maka bisa saya pastikan waktunya telah tiba. 😆

Komentar
Posting Komentar