Merefleksikan Kesedihan

 Hati adalah tanah lapang yang entah sampai dimana ujungnya. Konon katanya dunia tak dapat memuat Tuhan, tapi dapat dimuat oleh hati orang beriman. di dalamnya segala ramai dunia bergejolak. ada kelembutan, ada kebengisan, ada kesengsaraan, ada kebahagiaan, ada keresahan, ada ketentraman, ada diri! . dan tentunya masih banyak lagi hal yang sama sekali belum terbahasakan oleh ucapan manusia.

Ada yang bilang bahwa ruang dalam hati itu berlapis-lapis. ya, agaknya saya setuju. meskipun tak tahu pasti bentuk masing-masing ruang agaknya tirai-tirai yang menyelimuti itu saya rasa memang ada. Awalnya saya merasa curiga. mengapa rasa bahagia menjadi larut, berganti dengan kesedihan, kesedihan larut, berganti dengan keresahan, keresahan larut, berganti dengan hampa, hampa berganti takjub. siapa yang mengatur ini semua?.

saya tidak hendak merumuskan perihal hati, apalagi membuat teori tentangnya. terlalu dangkal pengetahuan saya mengenai misteri setiap anak manusia ini. saya hanya ingin berbagi cerita bahwa lapisan hati itu ada!. 

ada beberapa hal yang kadang membuat saya senang, kadang juga sedih. ya sebagaimana kebanyakan ucapan para pujangga semakin besar harapan maka semakin besar pula kekecewaan. semakin besar kebahagiaan semakin besar pula kesedihan. saya mulai menelisik adakah ruang yang lebih dalam dari sekedar senang dan sedih?. ternyata ada!. senang dan sedih saya rasa hanya bertempat pada lapisan hati yang paling luar. ibarat buah ia adalah kulit. ibarat peristiwa ia hanyalah fenomena yang tampak. lapisan yang paling luar inilah yang kebanyakan berhubungan langsung dengan otak yang dengan sigap merespon sehingga melahirkan ucapan maupun perbuatan. 

setelah itu saya masuk lebih dalam lagi. dalam ruang kedua ini saya menemui seperti ada deretan draft hasrat dan emosi yang ada pada diri saya. 

saya belum puas, saya ingin menuju lebih dalam lagi, saya ingin tahu apakah ada yang lebih dalam dari hasrat dan emosi. teranyata ada! . dalam ruang itu saya menemui keheningan yang diisi oleh ragam pertanyaan mendasar seputar diri manusia, dari mana mau kemana, kita siapa, berikut draft-draft jawaban yang kadang berubah-ubah sesuai pengaruh dari luar yang membentuk karakter diri. 

lagi-lagi saya belum puas. saya ingin tahu apa ada yang lebih dalam dari tempat hening itu. ternyata ada!. akhirnya saya bertemu diri saya sendiri. kesadaran terdalam yang pernah saya alami. disana sangat tenang, tentram, hening. hanya saja yang tidak saya habis pikir diri saya selalu memohon pada saya. ia meratap sepanjang waktu mengajak untuk selalu beribadah dan mengingat Tuhan. saya jadi bertanya-tanya, apakah ini yang sealu dikehendaki oleh diri yang sejati? entahlah. saya merasa lemas. banyak pekerjaan dan tugas yang perlu saya selesaikan. ada banyak perilaku yang harus saya rubah. 

apa setelah itu masih ada ruang lagi? aku tak tahu. aku berhenti. aku takut. masih banyak bekal yang harus dipersiapkan.

Komentar

  1. Sepertinya ini masih bersambung! Ditunggu kelanjutannya, jangan biarkan saya ikut merenung gara² menunggu kelanjutan ceritanya lalu tertidur, dan saya tak mendapatkan cerita kelanjutannya sama sekali๐Ÿ˜€

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengetahuan-pengetahuan yang mungkin menyelamatkanmu ketika membaca kitab kuning

Urban Sufisme, Butuhkah?

Menyiasati Banking Education